6 Contoh Recount Text Peristiwa Sejarah dan Arti

Apa dan bagaimana teks recount itu? Inilah contoh recount text tentang peristiwa sejarah yang ditulis dengan bahasa Inggris. Karena dipakai untuk belajar jenis teks maka disediakan juga artinya.

Recount text harus disusun berdasarakan urutan generic structure  tertentu. Struktur pengaturan paragraf ini ditentukan sedemikian rupa supaya tujuan ditulisnya teks recount ini tercapai.

Secara umum generic structure teks recount yang dipelajari dibangku sekolah adalah:
1. Orentation: Pengenalan terhadap participant, setting of time, dan juga setting of place.
2. Series of events: Ini adalah rangkaian peristiwa yang terjadi dan dialamai oleh participant sehingga membentuk rangkain sejaran yang komplit.
3. Reorientation: Kata penutup yang mestinya adalah kesan dan pesan. Dilihat dari fungsinya, Reorientation ini bersifat optional.

pengertian komplit recount text
Pengertian teks recount harus meliputi jenis, generic structure dan contohnya

Itulah komponen dasar struktur pengaturan teks recount bahasa Inggris itu harus ditulis. diliahat dari generic structure sebenaranya tipe teks ini sangat mirip dengan narrative text. Berikut adalah beberapa contoh recount text terbaik berkaitan dengan peristiwa sejarah.

1. Bandung as Sea of Fire
Bandung as Sea of Fire was a fire that occurred in the city of Bandung on March 24, 1946. Within seven hours, about 200,000 residents of Bandung burned their homes.

British troops as part of the Brigade MacDonald arrived in Bandung on October 12, 1945. Bandung was deliberately burned by TRI and local people. There were black smoke billowing high into the air everywhere. The British Army began to attack so fierce. The greatest battle happened in the Village name Dayeuh Kolot, in South Bandung, where there were a large ammunition depot belonging to British. In this battle, Barisan Rakyat Indonesia  destroyed the ammunition depot.

The strategy to fire Bandung was considered because the power of TRI and people’s militia was not comparable to the British forces and NICA. This incident inspired to create the famous song “Halo, Halo Bandung”.

Arti Contoh Recount Text Peristiwa Sejarah Bandung as Sea of Fire
Bandung lautan api adalah kebakaran yang terjadi di kota Bandung pada tanggal 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 warga Bandung membakar rumah mereka.

Pasukan Inggris sebagai bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada 12 Oktober 1945. Bandung memang sengaja dibakar oleh TRI dan masyarakat setempat. Ada asap hitam mengepul tinggi ke udara di mana-mana. Tentara Inggris mulai menyerang dengan sangat sengit. Pertarungan terbesar terjadi pada nama desa Dayeuh Kolot, di Bandung Selatan, dimana terdapat sebuah gudang amunisi besar milik Inggris. Dalam pertempuran ini, Barisan Rakyat Indonesia menghancurkan depot amunisi.

Strategi untuk menghanguskan Bandung dianggap perlu karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan pasukan Inggris dan NICA. Kejadian ini terinspirasi untuk menciptakan lagu terkenal “Halo, Halo Bandung”.

2. Proclamation of Indonesian Independence
The Proclamation of Indonesian Independence  was read at 10.00 a.m. on Friday, 17 August 1945.

The declaration marked the start of the diplomatic and armed resistance of the Indonesian National Revolution, fighting against the forces of the Netherlands and pro-Dutch civilians, until the latter officially acknowledged Indonesia’s independence in 1949. The Netherlands declared that they had decided to accept de facto 17 August 1945 as Indonesia’s independence date. The United Nations, who mediated in the conflict, formally acknowledge the date of independence as 27 December 1949.

The document was signed by Sukarno and Mohammad Hatta, who were appointed president and vice-president respectively the following day.

Arti Contoh Recount Text Peristiwa Sejarah Proclamation of Indonesian Independence
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibaca pukul 10.00 pagi pada hari Jumat, 17 Agustus 1945.

Deklarasi tersebut menandai dimulainya perlawanan diplomatik dan bersenjata dari Revolusi Nasional Indonesia, melawan kekuatan Belanda dan warga sipil pro-Belanda, sampai yang terakhir tersebut secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949. Belanda menyatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk menerima facto 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia. Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang dimediasi dalam konflik, secara formal mengakui tanggal kemerdekaan pada tanggal 27 Desember 1949.

Dokumen tersebut ditandatangani oleh Sukarno dan Mohammad Hatta, yang ditunjuk sebagai presiden dan wakil presiden pada keesokan harinya.

3. Battle of Surabaya
The Battle of Surabaya was fought between pro-independence Indonesian soldiers and militia against British and British Indian troops as a part of the Indonesian National Revolution.

The peak of the battle was in November 1945. The battle was the heaviest single battle of the revolution and became a national symbol of Indonesian resistance.  Fighting broke out on 30 October after the British commander, Brigadier A. W. S. Mallaby was killed in a skirmish. Although the Colonial forces largely captured the city in three days, the poorly armed Republicans fought for three weeks, and thousands died as the population fled to the countryside.

The battle and defence mounted by the Indonesians galvanised the nation in support of independence and helped garner international attention. For the Dutch, it removed any doubt that the Republic was not simply a gang of collaborators without popular support. It also had the effect of convincing Britain that wisdom lay on the side of neutrality in the revolution; within a few years, in fact, Britain would support the Republican cause in the United Nations.

Considered a heroic effort by Indonesians, the battle helped galvanise Indonesian and international support for Indonesian independence. 10 November is celebrated annually as Heroes’ Day.

Arti Contoh Recount Text Peristiwa Sejarah Battle of Surabaya
Pertempuran Surabaya diperjuangkan antara tentara pro-kemerdekaan Indonesia dan milisi melawan pasukan Inggris dan Inggris India sebagai bagian dari Revolusi Nasional Indonesia.

Puncak pertempuran adalah pada bulan November 1945. Pertempuran itu merupakan pertempuran tunggal terberat revolusi dan menjadi simbol nasional perlawanan Indonesia. Pertarungan terjadi pada 30 Oktober setelah komandan Inggris, Brigadir A. W. S. Mallaby terbunuh dalam baku tembak. Meskipun pasukan Kolonial sebagian besar merebut kota itu dalam tiga hari, kaum Republikan yang bersenjata buruk berjuang selama tiga minggu, dan ribuan orang meninggal saat penduduknya melarikan diri ke pedesaan.

Pertarungan dan pertahanan yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia menggembleng bangsa untuk mendukung kemerdekaan dan membantu mengumpulkan perhatian internasional. Bagi Belanda, ini menghilangkan keraguan bahwa Republik bukan sekadar sekelompok kolaborator tanpa dukungan rakyat. Ini juga memiliki efek meyakinkan Inggris bahwa kebijaksanaan berada di sisi netralitas dalam revolusi; Dalam beberapa tahun, sebenarnya, Inggris akan mendukung perjuangan Republik di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dianggap sebagai upaya heroik oleh orang Indonesia, pertempuran tersebut membantu menggembleng dukungan Indonesia dan internasional untuk kemerdekaan Indonesia. 10 November dirayakan setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.

4. General Offensive of 1 March 1949
The Dutch launched a military offensive on 19 December 1948 which it termed Operation Crow.
By the following day it had conquered the city of Yogyakarta, the location of the temporary Republican capital. By the end of December, all major Republican held cities in Java and Sumatra were in Dutch hands.
The Republican President, Vice-President, and all but six Republic of Indonesia ministers were captured by Dutch troops and exiled on Bangka Island off the east coast of Sumatra.
In areas surrounding Yogyakarta and Surakarta, Republican forces refused to surrender and continued to wage a guerrilla war under the leadership of Republican military chief of staff General Sudirman who had escaped the Dutch offensives. An emergency Republican government, was established in West Sumatra.
On March 1, 1949 at 6 am, Republican forces launched March 1 General Offensive. The Offensive caught the Dutch by surprise. For his part, Hamengkubuwono IX allowed his palace to be used as a hide out for the troops. For 6 hours, the Indonesian troops had control of Yogyakarta before finally retreating.
The Offensive was a moral and diplomatic success, inspiring demoralised troops all around Indonesia, as well as proving to the United Nations that the Indonesian army still existed and were capable of fighting. On the other hand, the offensive had demoralized the Dutch forces, because they never thought that Indonesian forces could assault and control the city, even for a few hours.

Arti Contoh Recount Text Sejarah General Offensive of 1 March 1949
Belanda melancarkan serangan militer pada tanggal 19 Desember 1948 yang disebut Operasi Gagak.
Keesokan harinya kota tersebut telah menaklukkan kota Yogyakarta, lokasi ibukota Republikan sementara. Pada akhir Desember, semua kota besar Republik di Jawa dan Sumatra berada di tangan Belanda.
Presiden Republik, Wakil Presiden, dan semua kecuali enam menteri Republik Indonesia ditangkap oleh tentara Belanda dan diasingkan di Pulau Bangka di lepas pantai timur Sumatra.
Di daerah sekitar Yogyakarta dan Surakarta, pasukan Republik menolak untuk menyerah dan terus melakukan perang gerilya di bawah pimpinan kepala staf militer Republik Jenderal Sudirman yang telah lolos dari serangan-serangan Belanda. Pemerintah Republik darurat, didirikan di Sumatera Barat.
Pada tanggal 1 Maret 1949 jam 6 pagi, pasukan Republik meluncurkan Serangan Umum 1 Maret. Serangan tersebut membuat Belanda terkejut. Sementara itu, Hamengku Buwono IX mengizinkan istananya untuk dijadikan tempat persembunyian bagi pasukan. Selama 6 jam, pasukan Indonesia menguasai Yogyakarta sebelum akhirnya mundur.
Serangan tersebut merupakan keberhasilan moral dan diplomatik, mengilhami pasukan demoralisasi di seluruh Indonesia, dan juga membuktikan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa tentara Indonesia masih ada dan mampu berperang. Di sisi lain, serangan tersebut telah merendahkan kekuatan Belanda, karena mereka tidak pernah berpikir bahwa pasukan Indonesia dapat menyerang dan mengendalikan kota, bahkan selama beberapa jam saja.

5. Supersemar
The Supersemar, the Indonesian Order of March the Eleventh, was a document signed by the Indonesian President Sukarno on 11 March 1966.

It is said that it was giving the army commander Lt. Gen. Suharto authority to take whatever measures he “deemed necessary” to restore order to the chaotic situation during the Indonesian killings of 1965 – 1966.

The abbreviation “Supersemar” is a play on the name of Semar, the mystic and powerful figure who commonly appears in Javanese mythology including wayang puppet shows. The invocation of Semar was presumably intended to help draw on Javanese mythology to lend support to Suharto’s legitimacy during the period of the transition of authority from Sukarno to Suharto.

In effect, the Supersemar came to be seen as the key instrument of the transfer of executive power from Sukarno to Suharto.

Arti Recount Text Peristiwa Sejarah Supersemar
Supersemar adalah sebuah dokumen yang ditandatangani oleh Presiden Indonesia Sukarno pada tanggal 11 Maret 1966.

Dikatakan bahwa hal itu memberi komandan militer Letnan Jenderal Suharto untuk mengambil tindakan apapun yang “dianggap perlu” untuk memulihkan situasi kacau selama pembunuhan Indonesia tahun 1965-1966.

Singkatan “Supersemar” adalah permainan atas nama Semar, sosok mistis dan kuat yang biasa muncul dalam mitologi Jawa termasuk wayang wayang. Pemanggilan Semar diduga dimaksudkan untuk membantu menarik mitologi Jawa untuk memberi dukungan pada legitimasi Soeharto selama masa transisi wewenang dari Sukarno ke Soeharto.

Akibatnya, Supersemar menjadi alat kunci pemindahan kekuasaan eksekutif dari Sukarno ke Soeharto.

6. The Battle of Ambarawa
The Battle of Ambarawa was a battle between the recently created Indonesian Army and the British Army that occurred between 20 October and 15 December 1945 in Ambarawa, Indonesia.

On 20 October 1945, Allied troops under the command of Brigadier Bethell landed in Semarang to disarm Japanese troops. Initially, the troops were welcomed in the area, with Central Java’s governor Wongsonegoro agreeing to provide them with food and other necessities in return for the Allies’ promise to respect Indonesia’s sovereignty and independence.

However, when Allied and NICA troops began freeing and arming freed Dutch POWs in Ambarawa and Magelang, many locals were angered. Indonesian troops under the command of Lieutenant Colonel M. Sarbini began besieging Allied troops stationed in Magelang in reprisal for their attempted disarmament.

On the morning of 23 November 1945, Indonesian troops began firing on Allied troops stationed in Ambarawa. A counterattack by the Allies forced the Indonesian Army to retreat to the village of Bedono.

On 11 December 1945, Soedirman held a meeting with various commanders of the Indonesian Army. The next day at 4:30 AM, the Indonesian Army launched an assault on the Allies in Ambarawa. Indonesian artillery pounded Allied positions, which were later overrun by infantry. When the Semarang-Ambarawa highway was captured by Indonesian troops, Soedirman immediately ordered his forces to cut off the supply routes of the remaining Allied troops by using a pincer maneuver.

The battle ended four days later on 15 December 1945, when Indonesia succeeded in regaining control over Ambarawa and the Allies retreated to Semarang.

Arti Recount Text Peristiwa Sejarah The Battle of Ambarawa
Pertempuran Ambarawa adalah pertempuran antara Tentara Indonesia yang baru saja dibentuk dan Angkatan Darat Inggris yang terjadi antara 20 Oktober dan 15 Desember 1945 di Ambarawa, Indonesia.

Pada tanggal 20 Oktober 1945, pasukan Sekutu di bawah komando Brigadir Bethell mendarat di Semarang untuk melucuti senjata tentara Jepang. Awalnya, pasukan tersebut disambut di daerah tersebut, dengan Gubernur Jawa Tengah Wongsonegoro setuju untuk menyediakan makanan dan kebutuhan lainnya sebagai pengganti janji Sekutu untuk menghormati kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia.

Namun, ketika pasukan Sekutu dan NICA mulai membebaskan dan mempersenjatai membebaskan tahanan Belanda di Ambarawa dan Magelang, banyak penduduk setempat yang marah. Pasukan Indonesia di bawah komando Letnan Kolonel M. Sarbini mulai mengepung pasukan Sekutu yang ditempatkan di Magelang sebagai pembalasan atas usaha pelucutan senjata mereka.

Pada pagi hari tanggal 23 November 1945, tentara Indonesia mulai menembaki tentara Sekutu yang ditempatkan di Ambarawa. Serangan balik oleh Sekutu memaksa tentara Indonesia mundur ke desa Bedono.

Pada tanggal 11 Desember 1945, Soedirman mengadakan pertemuan dengan berbagai komandan Angkatan Darat Indonesia. Keesokan harinya pada pukul 4.30 pagi, Angkatan Darat Indonesia melancarkan serangan terhadap Sekutu di Ambarawa. Senjata artileri Indonesia menggebrak posisi Sekutu, yang kemudian dikuasai oleh infanteri. Ketika jalan raya Semarang-Ambarawa ditangkap oleh pasukan Indonesia, Soedirman segera memerintahkan pasukannya untuk memotong rute pasokan tentara Sekutu yang tersisa dengan menggunakan manuver penjepit.

Pertempuran berakhir empat hari kemudian pada tanggal 15 Desember 1945, ketika Indonesia berhasil mendapatkan kembali kendali atas Ambarawa dan Sekutu yang kembali ke Semarang.

Begitulah 6 contoh recount text tentang peristiwa bersejarah. Teks recount memang sangat cocok dipakai untuk menulis kejadian sejarah karena jenis teks ini memang ditulis dengan tujuan untuk menceritakan kembali kejadian di masa lampau.